hot news
LAGA Prancis versus Kolombia punya arti penting bagi Thierry Henry. Penyerang andalan Prancis itu telah mencapai 100 caps. Henry pun menjadi pemain Prancis keenam yang sukses menorehkan penampilan tiga digit bersama Les Bleus, julukan Timnas Prancis.
Catatan itu sekaligus melengkapi prestasi Henry selama berkostum Prancis atau sejak debut lawan Afrika Selatan pada 11 Oktober 1997. Sebelumnya, tepatnya 13 Oktober 2007, striker Barcelona tersebut telah menahbiskan diri sebagai top scorer sepanjang masa Prancis. Henry mematahkan rekor pemain legenda Negeri Anggur yang kini menjabat presiden UEFA, Michel Platini.
“100 caps adalah sesuatu yang indah. Tidak banyak penyerang di negara-negara besar yang bisa mencapai angka itu,” ungkap Henry kepada L’Equipe.
Meski dipuji karena mencatat penampilan ke-100, Henry tak lepas dari kritik atau lebih tepatnya cemoohan. Mantan penyerang Arsenal itu dianggap publik bola negerinya masih menunjukkan penampilan impresif bersama Les Bleus. Cemoohan bagi Henry menggema di Stade de France kemarin (4/6), kala dia digantikan Nicolas Anelka saat laga tersisa 15 menit.
Lantas, apa tanggapan Henry? “Cemoohan merupakan hal biasa bagi saya. Juga, bukan kali pertama saya diteriaki di Stade de France,” jawab pemilik nama lengkap Thierry Daniel Henry tersebut enteng.
Justru, Henry menganggap cemoohan itu sebagai pelecut baginya untuk membuktikan kapasitas terbaiknya di Euro 2008. Ayah satu putri berusia tiga tahun (bernama Tea) itu lantas mencontohkan kasus sebelum Piala Dunia 2006. “Kami mendapat cemoohan sebelum bertolak ke Jerman. Tapi, hasilnya, kami justru melangkah hingga ke final,” terang peraih Sepatu Emas Eropa 2004 dan 2005 tersebut.
Henry yang berusia 31 tahun pada 17 Agustus nanti berencana menjadikan Euro 2008 sebagai even mayor terakhirnya. Bermunculannya penyerang muda berbakat seperti Karim Benzema dan Bafetimbi Gomis membuat Henry sadar bahwa waktunya bersama Les Bleus hampir usai. Toh, dia sudah meraih segalanya di timnas, baik prestasi individu maupun trofi Piala Dunia 1998 dan Euro 2000. (dns/iro)
Tutup Jalan, Kebut Fan Zone
Mesin hitungan mundur (count down) kick-off Euro 2008 di Stadion Ernst Happel Wina, Austria, terus berjalan. Hitungan hari, tanggal, jam, dan detik di mesin itu terus berkurang. Itu pertanda pembukaan turnamen sepak bola terbesar di Eropa semakin dekat. Persiapan pun terus dikebut.
Laga pembuka memang bakal digelar di Basel, Swiss, pada 7 Juni nanti. Meski begitu, kesibukan menyongsong pertandingan perdana juga terasa di Wina. Tuan rumah Austria akan meladeni Kroasia pada laga pembuka grup B.
Di Stadion Ernst Happel, venue tiga pertandingan penyisihan grup yang akan dilakoni Austria, standar keamanan diperketat. Kawasan di seputar stadion disterilkan dari jangkauan publik. Di pintu masuk ada pengumuman tentang larangan berkunjung ke stadion.
Jumlah personel keamanan pun semakin banyak. Di setiap pintu masuk dikawal minimal seorang petugas keamanan. Sementara di pintu masuk utama ada pos keamanan dengan empat petugas. Sore itu digelar apel pengamanan yang diikuti sekitar 200 personel.
Tidak sembarang orang boleh masuk kawasan stadion. Hanya yang memiliki ID Card Euro 2008 yang diizinkan masuk. Saat mengunjungi stadion pada Selasa (3/6) lalu, seorang petugas keamanan memelototi ID Card yang dikenakan Jawa Pos. ”Ya, Anda bisa masuk,” katanya.
Kesibukan tampak di sekeliling stadion. Tenda-tenda besar dipasang di sisi barat stadion terbesar di Wina tersebut. Lokasi itu disiapkan untuk menampung petugas UEFA (Asosiasi Sepak Bola Eropa) dan sponsor. Juga ada beberapa tenda yang bakal menjadi tempat penjualan merchandise resmi Euro 2008.
Selain di Ernst Happel, kesibukan juga terjadi jantung kota Wina. Tepatnya di Rathausplatz dan Heldenplatz. Di dua tempat itu dibangun fan zone atau area khusus suporter. Sudah sejak satu pekan lalu proses pembangunan berjalan. Mendekati hari H, pekerjaan pun dikebut.
Di Rathausplatz, para pekerja sudah berhasil mendirikan tiga layar lebar yang bakal menjadi media nonton bareng. Juga beberapa panggung yang akan menjadi arena beragam atraksi. Mulai konser orkestra, paduan suara, pesta disc jockey (DJ), sampai konser musik.
Di halaman kantor walikota Wina ini juga dibangun beberapa lapangan sepak bola mini. Para pekerja tampak sibuk merapikan rumput buatan yang dipakai untuk lapangan tersebut. Di arena tersebut bakal digelar pertandingan eksibisi antarsuporter.
Kesibukan serupa terjadi di Heldenplatz. Sebuah panggung raksasa sudah berdiri. Layar lebar ukuran 7 x 10 meter pun sudah hampir sempurna. Juga beberapa layar dengan ukuran lebih kecil yang ada di sisi lain Heldenplatz. Pembangunan fan zone sudah mencapai 80 persen.
Untuk memperlancar pembangunan fan zone, beberapa ruas jalan di seputar kawasan tersebut terpaksa ditutup. Hal itu membuat beberapa jalur tram dan bus kota terganggu. Terutama yang rutenya melewati Rathausplatz dan Heldenplatz. Namun, pihak berwenang telah melakukan pengalihan jalur sehingga tidak menimbulkan masalah.
Rathausplatz dan Heldenplatz adalah dua tempat berbeda. Terpisah oleh jalan raya. Namun, untuk kepentingan fan zone Euro 2008, dua tempat itu ”disatukan”. Panitia pun menyiapkan pagar keliling yang panjangnya mencapai lima kilometer! (ca/cfu)

Sebelum musim MotoGP 2008 dimulai, Valentino Rossi mulai kehilangan bargaining power. Gajinya terancam turun untuk 2009 dan selanjutnya. Sekarang, The Doctor membalik situasi. Gantian Yamaha yang pusing memenuhi permintaan naik gaji.
———
Nasib orang memang ada di tangannya sendiri. Kalau dia perform baik, segalanya akan manis. Kalau dia perform buruk, segalanya berantakan. Valentino Rossi memberi contoh itu dari MotoGP.
Sebelum musim 2008 ini dimulai, ‘’saham” Rossi sedang anjlok-anjloknya. Dia telah gagal merebut gelar juara dunia 2006 dan 2007, plus membuat kesalahan-kesalahan (khususnya 2006) yang seharusnya tidak dilakukan pembalap sekaliber dirinya.
Situasinya memburuk karena ada begitu banyak pembalap muda siap mendobrak. Termasuk rekan barunya di Fiat Yamaha, Jorge Lorenzo.
Padahal, Rossi sedang mengejar kontrak baru. Kontraknya dengan Yamaha berakhir di pengujung 2008 ini. Sulit membayangkan ada pabrikan lain mau mengeluarkan uang banyak untuk Rossi. Sulit juga membayangkan pabrikan lain bisa menyediakan motor kompetitif untuk Rossi.
Apalagi, jalan kembali ke Honda mungkin sudah tertutup, karena Rossi dan Honda berpisah ”kurang manis” pada pengujung 2003.
Memasuki Grand Prix Italia akhir pekan lalu, sudah terungkap bahwa Rossi dan Yamaha sedang negosiasi perpanjangan kontrak. Semula, yang diperkirakan jadi kendala hanya panjang kontraknya. Setahun atau dua tahun.
Setelah lomba berakhir Minggu lalu (1/6), ternyata terungkap ada tarik ulur soal besar bayaran.
Menurut laporan German G. Casanova dari harian Spanyol Sport, Yamaha ternyata ingin menurunkan bayaran Rossi untuk tahun depan. Dari 7 juta euro (sekitar Rp 101,5 miliar) menjadi ”hanya” 5 juta euro (Rp 72,5 miliar).
Bila performa Rossi masih seperti 2006 dan 2007, mungkin dia mau saja menerima. Masalahnya, performanya belakangan dahsyat, seperti ketika musim 2005. Kemenangan Rossi di Mugello adalah yang ketiga berturut-turut musim ini. Posisinya di puncak klasemen pembalap juga makin kukuh.
Dengan performa itu, Rossi pun menaikkan bargaining power pribadinya. Dan dia dikabarkan minta bayaran tambahan. Dari 7 juta euro menjadi 10 juta euro (Rp 145 miliar).
Tapi, Sport menjelaskan, tidak semua uang itu harus dari Yamaha. Pabrikan Jepang tersebut bakal dapat tagihan 6 juta euro (Rp 87 miliar), sisanya dari sponsor pribadi. Seperti yang selama ini dia dapatkan dari Kerakoli dan Nastro Azzurro.
Andai tak mampu menurunkan permintaan, Yamaha sendiri mungkin tidak perlu terlalu pusing. Sebab, performa baik pabrikan itu sekarang mengundang minat sejumlah calon sponsor baru.
Kontrak Fiat sendiri akan berakhir di pengujung 2008 ini. Tanda-tandanya, Fiat tidak akan memperpanjang, atau tidak mau membayar lebih dari 6 juta euro per musim seperti dalam dua tahun terakhir.
Kalau sampai Fiat lepas, beberapa sponsor sekarang siap masuk sebagai pengganti. Ada yang dari Spanyol, yang sebenarnya kepincut karena dahsyatnya Jorge Lorenzo.
Dari Spanyol, perusahaan telekomunikasi Telefonica disebut berminat. Begitu pula dua bank besar, Caja Madrid dan Santander.
Menurut laporan Sport itu juga, Yamaha disebut minta duit 12 juta euro (Rp 174 miliar) untuk mensponsori tim utamanya, mem-branding Rossi dan Lorenzo.
Dan seandainya satu sponsor tidak sanggup, Yamaha sudah menyiapkan paket terpisah. Rossi tampil dengan satu sponsor, Lorenzo memakai warna sponsor yang lain.
Kepastiannya kita tunggu saja. Kalau negosiasi lancar, seharusnya kita sudah bisa mengetahuinya sebelum libur musim panas MotoGP, 20 Juli mendatang. (azrul ananda)


Harga Tiket Rata-Rata Rp 5,6 Juta
Boston kembali demam Celtics. Begitu Kevin Garnett dkk lolos ke final, orang berebut tiket pertandingan di TD Banknorth Garden. Ada yang antre 24 jam, ada yang mau membeli tiket hingga USD 3.000 atau sekitar Rp 27 juta per lembar!
——-
PANTAS bila penggemar Boston Celtics berebut tiket nonton pertandingan pertama NBA Finals 2008, di TD Banknorth Garden, Kamis malam ini (Jumat pagi WIB). Sebab, itu adalah pertandingan pertama Celtics di kandang sendiri dalam 21 tahun!
Kali terakhir Celtics bermain di NBA Finals adalah pada 1987, saat Larry Bird masih membela tim hijau. Waktu itu, lawannya juga Los Angeles Lakers.
Begitu Celtics memastikan diri lolos ke final akhir pekan lalu, para penggemar langsung bersiap berebut tiket. Menurut laporan Boston Globe, Selasa (3/6), ribuan orang sudah antre di depan TD Banknorth Garden.
Ada yang datang 24 jam sebelum loket dibuka, ada yang terbang jauh dari Meksiko. Sambil menunggu, ada yang bermain kartu. Padahal, saat malam, udara tergolong dingin dan berangin!
Sayang, datang pertama belum tentu dapat tiket duluan. Celtics punya policy, semua orang punya kesempatan sama. Maksudnya, siapa pun yang antre akan mendapat nomor, lalu mengikuti lotre. Meskipun datang pertama, kalau nomornya tidak disebut, dia tetap tidak dapat tiket.
Kebijakan tersebut tentu membuat beberapa penggemar ngedumel. ”Ini tidak adil. Saya telah mendukung Celtics seumur hidup saya, datang ke semua pertandingan playoff dan memberi support saat tim ini masih buruk. Masak orang lain yang tidak peduli Celtics justru dapat tiket,” keluh Stephen Souther, 18, salah seorang pengantre 24 jam.
Menanggapi hal itu, penyelenggara bergeming. John Wentzell, pimpinan TD Banknorth Garden, menyatakan lotre itu sudah dikomunikasikan sejak awal. ”Kami sudah memasang kebijakan lotre itu di luar Garden, di semua pintu, di semua loket. Kami selalu bilang bahwa nomor akan dipilih secara acak,” tegasnya.
Menurut Wentzell, hanya dengan cara itu para penggemar bisa mendapatkan tiket secara adil. Lagi pula, pihaknya tak ingin ada orang sampai antre selama dua hari.
Keadilan memang tidak bisa memuaskan semua orang. TD Banknorth Garden punya kapasitas menampung 18.624 orang. Tapi, hanya 1.200 tiket yang tersisa untuk dilotre, dengan harga termurah USD 30 atau sekitar Rp 270 ribu. Sisanya sudah sold out sejak lama.
Shawn Sullivan, kepala divisi penjualan tiket Cetlics, menjelaskan bahwa kebanyakan tiket sudah di-booking oleh season ticket holders. Yaitu, mereka yang sejak awal musim 2007-2008 lalu sudah membeli tiket semusim. Sisanya dipegang sponsor, NBA, stasiun televisi, dan jatah tim lawan (Los Angeles Lakers).
Saking terbatasnya, tidak semua VIP bisa mendapat jatah nonton. Padahal, sangat banyak orang top yang mau membayar untuk menonton. Mulai selebriti sampai politisi.
Untuk mendapatkan tiket, memang tidak harus lewat jalur resmi. Masih ada perusahaan-perusahaan tiket dan individual-individual yang kebetulan punya lebih dari satu tiket. Hanya, harganya di atas harga resmi, dan orang yang punya belum tentu mau melepasnya. Sebab, dia sendiri juga ingin nonton laga final pertama Celtics sejak 1987 itu.
Julie Kahn, marketing manager Entercom, yang ikut menyiarkan pertandingan Celtics, mengaku diserbu permintaan orang yang ingin membeli jatah tiket perusahaan.
”Saya ditelepon orang yang sudah satu dekade tidak menelepon. Bahkan, suami saya ikut merayu. Ini gila. Kami mungkin bisa mendapat uang lebih banyak dengan jualan tiket daripada jualan iklan,” ucapnya.
Carla Pallotta, pemilik Nebo, sebuah restoran Italia di seberang Garden, mengaku melihat ada orang menjual tiket dengan harga gila-gilaan di tempatnya bekerja. Harga asli USD 1.000 (Rp 9,3 juta) laku hingga USD 3.000 (Rp 27,9 juta).
Secara keseluruhan, final Celtics versus Lakers memang meningkatkan popularitas NBA. Rating televisi di seluruh dunia diperkirakan melonjak gila-gilaan, berikut dengan pemasukan liga tersebut sepanjang berlangsungnya final.
StubHub, perusahaan penjualan tiket olahraga dan pertunjukan, menyebut harga tiket rata-rata final tahun ini merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. ”Sekitar dua kali lipat harga tiket final tahun lalu (San Antonio Spurs versus Cleveland Cavaliers, Red),” kata Sean Pate, juru bicara StubHub.
Menurtu data StubHub, final Celtics versus Lakers ini punya harga tiket rata-rata USD 606 atau sekitar Rp 5,6 juta. Tahun lalu ”hanya” USD 344 atau Rp 3,2 juta. (aza)

YOUNGSTOWN - Perseteruan tinju pro kubu Amerika Serikat (AS) dan Inggris kembali pecah. Pertarungan antara juara WBC dan WBO kelas menengah (72,6 kg) Kelly Pavlik melawan penantang ke-15 Gary Lockett bakal dilangsungkan di Atlantic City pada Sabtu (8/6) waktu setempat atau Minggu WIB. Menariknya, pelatih dari kedua pihak justru lebih dulu memancing perang urat saraf.
Jack Loew yang memoles Pavlik menyebut pelatih Lockett, Enzo Calzaghe, melatih petinju seperti seorang wanita. “Enzo hanya bisa mengajarkan tinju kepada Lockett seperti bagaimana tamparan seorang wanita. Itu seperti yang didapat Joe Calzaghe (juara dunia kelas menengah super, Red),” ejek Loew seperti dilansir fightnews kemarin (4/6).
Tak terima dihina seperti itu, ayah Joe Calzaghe tersebut menilai tak terlalu mengenal Loew. Dengan demikian, tak ada alasan buat pelatih yang mengantarkan sang anak mempermalukan jagoan kelas menengah super Bernard Hopkin di kandang lawan pada 19 April lalu itu gentar.
“Saya sudah cari dia di internet. Saya tak pernah mendengar nama orang bernama Jack Loew,” balas Enzo.
Memang, kekalahan Hopkins dari petinju Wales, Inggris, itu membuat keluarga besar Calzaghe menjadi musuh nomor satu publik AS. Pavlik pun memikul beban berat untuk membalas kekalahan Hopkins melalui Lockett. Apalagi, sebelum dijadwalkan meladeni tantangan Lockett, Pavlik yang belum terkalahkan pernah diproyeksikan menghadapi Calzaghe.
Namun, perbedaan kelas membuat mereka sementara waktu urung bertemu. Sekalipun Lockett sejatinya bukan lawan terbaik Pavlik, pertemuan petinju dari dua benua itu selalu memantik aroma panas. Sebelum bentrok Hopkins versus Calzaghe yang dimenangkan petinju tamu, jagoan Inggris Ricky Hatton harus merelakan rekor tak pernah kalah dihentikan jagoan kelas welter Floyd Mayweather Jr. (sep/roq)

Target Naik Podium 15 Kali
Menang di Monaco, Lewis Hamilton sekarang memimpin klasemen pembalap Formula 1. Tapi, andalan McLaren-Mercedes itu sadar bahwa Ferrari punya mobil yang lebih unggul. Untuk menjadi juara dunia, konsistensi adalah kunci. Bermula dari Grand Prix Kanada akhir pekan ini.
——-
SEBELUM memenangi Grand Prix Monaco 25 Mei lalu, banyak orang mulai meragukan Lewis Hamilton dan McLaren-Mercedes. Ferrari telah memenangi empat dari lima lomba, menguasai klasemen pembalap maupun konstruktor.
Mobil Ferrari F2008 terlihat lebih mantap daripada McLaren-Mercedes MP4-23. Karena itu, sulit membayangkan McLaren bisa bersaing hingga akhir musim.
Di Monaco, lomba keenam musim 2008 ini, arus berbalik mendorong McLaren. Hamilton -dengan bantuan keberuntungan- berhasil meraih juara, sementara pasangan Ferrari tampil belepotan. Alhasil, Hamilton kembali ke puncak klasemen. Peluangnya menjadi juara dunia kembali terbuka.
Apalagi, lomba berikutnya diselenggarakan di Sirkuit Gilles Villeneuve, Montreal, Kanada, akhir pekan ini. Di sirkuit itu tahun lalu Hamilton berjaya, meraih pole position dan kemenangan perdananya di Formula 1.
Bukan tidak mungkin, Hamilton dan McLaren kembali mengungguli Ferrari di Kanada. Dan, dari situ Hamilton dan McLaren terus membangun momentum untuk meraih gelar juara dunia 2008.
Hamilton sendiri sudah tidak sabar balapan lagi di Montreal. Lebih lanjut, dia merasa punya kemampuan lebih untuk mengulangi sukses tahun lalu. ”Sejak kemenangan (pertama) itu, saya telah menjadi semakin dewasa. Saya telah menjadi pembalap yang lebih kuat dengan hubungan yang lebih erat dengan seluruh personel tim,” paparnya.
Meski demikian, Hamilton mengingatkan bahwa Ferrari masih menjadi lawan yang menyeramkan. Rekan setimnya, Heikki Kovalainen, plus test driver McLaren Pedro de la Rosa, juga mengungkapkan hal yang sama.
”Kami harus terus bekerja keras mengembangkan mobil. Kejuaraan dunia ini masih panjang. Dan, tahun lalu kami hanya kalah satu poin di penghujung musim,” ujar De la Rosa.
Test driver asal Spanyol itu menambahkan, kemenangan memang sangat penting. Tapi, bagi Hamilton, untuk menjadi juara dunia, konsistensi jauh lebih penting. Intinya, jangan terlalu bernafsu mengejar kemenangan. Yang utama adalah rutin naik podium.
De la Rosa mengungkapkan bahwa Hamilton telah berjanji untuk naik podium 15 kali dari 18 lomba musim ini. Sekarang dia sudah naik podium empat kali dalam enam lomba. Berarti, dia membutuhkan naik podium sebelas kali lagi dalam 12 lomba yang tersisa.
Itu bukan janji yang mudah dicapai, tapi masih mungkin diraih. Ingat, meski baru mengikuti 23 lomba dalam karirnya di F1, Hamilton sudah naik podium 16 kali. Itu adalah simbol konsistensi.
”Hamilton sangatlah percaya diri. Kalau dia mampu memenuhi janji naik podium 15 kali, mungkin dia bakal menjadi juara dunia tahun ini,” kata De la Rosa. (azrul ananda)


